Kamis, 19 Maret 2009

Nashruddin Azzen

Sahabat ane yang satu ini adalah sahabat yang menurut ane dialah sahabat yang pertama kali ada dalam kehidupan ane, atau dialah sahabat yang menyadarkan ane bahwa persahabatan itu indah.

Jujur dari SD sampai SMA ane adalah manusia yang tertutup, dan tidak membuka diri, hingga membuat ane menjadi manusia yang minder dan "Kuper" alias kurang pergaulan, di buktikan dengan hanya sedikit orang yang mau menjadi teman ane.

Disaat pikiran minder ini ada dalam diri ane, semua orang yang ku kenali merasa ane tidak bisa menjadi teman mereka, dan ane akui bahwa hal ini membuat ane semakin da semakin membuat ane lebih minder.

Saat itu tahun 1999 akhir, ketika Gusdur menjadi Presiden RI yang memberlakukan libur bulan puasa adalah 30 hari selama bulan Ramadhan. Abi ane KH. Tb. Zainal Muttaqin memasukkan ane ke pesantren Riyadhloh yaitu pesantren Darut Tawabin, karena disana ada kakak ane yang sudah beberapa lama pesantren disana, kalo ane sih cuma pesantren kilat selama 40 hari.

Saat itu ane merasa bahagia sekali karena ane akan berada di luar rumah dan melihat keadaan di luar rumah itu seperti apa, maklum dengan sifat minder ane dulu, ane orang yang ga pernah keluar rumah kecuali ada keperluan.

Suasana di Pesantren ini sangat alami, dengan pepohonan yang tumbuh di tengah-tengah pesantren ini. Apalagi di kobong belakang, terdapat kolam ikan yang selain dipergunakan untuk kolam ikan, dipergunakan juga untuk berwudhu, mencuci pakaian dan mencuci piring, tentu saja disediakan tempatnya.
Waktu itu niat saya pesantren disini yaitu :
Bertaubat ( Yang paling utama menurut Mbah Khotim )
Mendapatkan kasih sayang Allah SWT, selamat dan bahagia dunia dan akhirat
Ada satu lagi permintaan ane waktu itu yaitu ingin membuka diri kepada siapapun, ga minder dan ingin merasakan persahabatan.

Allah telah mengabulkan doa ane, ketika ane baru 3 hari disini, ane berkenalan dengan Nasruddin Azzen itu juga karena ga sengaja kami berjalan bareng menuju Mbah Khotim dengan santri yang lain. Ditengah jalan Nas ( panggilan Nasruddin ) menanyakan nama dan alamat ane, saat itu ane merasa ada hal yang berbeda dengan diri Nas seolah ada magnet yang menyatukan kami.

Padahal saat itu banyak sekali santri yang kukenali tapi Nas seolah dia adalah orang yang sudah ane kenal lama sekali, hingga keakraban di antara kami seperti sahabat lama.

Nasruddin lahir dan tinggal di Kendal, Kaliwungu alamatnya ane simpan namu entah dimana naruhnya...hehehe. Usianya sama dengan ane yaitu tahun 1983. Kenangan bersama Nas ga akan ane lupa, kami sering pergi bersama, ziarah ke maqam, kami melakukan semua kegiatan yang bermanfaat bersama. Kami juga selalu berbagi baik suka maupun duka, dan saat itu ada perkataan Nas yang akan selalu ku ingat yaitu " Jadilah orang yang bisa diterima oleh semua orang, dan jadilah orang yang menyenangkan".

Sahabat ane yang satu ini termasuk sahabat yang memiliki sifat pemalu, dan sikapnya alami seperti orang kampung pada umumnya. Bersahabat dengan Nas membuat ane terbuka bahwa persahabatan harus dipupuk dengan kasih sayang yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam.

Namun ada pepatah " Ada pertemuan maka akan ada perpisahan, ane berpisah dengan Nas, ketika Nas selesai berpuasa selama 40 hari, dan Nas harus pulang. Ada peristiwa yang ga akan ane lupa, yaitu kami merayakan Lebaran di Pesantren bersama-sama ketika malam takbiran ( ane baru pertama kali ini Lebaran di luar rumah ) segala macam yang bisa di pukul, ada gelas, piring, kaleng, semua sanagat meriah walaupun dalam hati ini sedih tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Ane merasa, ada yang mengisi kekosongan hati yaitu Nasruddin Azzen.

Namun sampai saat ini 20 Maret 2009 setelah 9 tahun, ane ga pernah bertemu dengan Nas, ane ga tau dimana Nas, alamatnyapun ane ga tau, kontak dah ga tau. Tapi insyaAllah suatu saat nanti kami pasti bisa bertemu kembali, kalo tidak di dunia maka nanti disurga. aminnnn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar