Sahabat ane yang satu ini adalah sahabat ane dari pesantren " Darut Tawabin " Panguragan, Cirebon. Sahabat ane ini termasuk sahabat yang sangat menyenangkan untuk diajak bicara, beliau bisa joke and kadang-kadang seriously.
Pertama kali bertemu dengan sahabat ane ini, dikarenakan ane sering ngaji bersama dibelakang pesantren ini, disebuah tempat yang menurut ane sangat tenang dan damai. Sahabat ane ini orangnya lucu hehehehe....dan cita cita-citanya ingin menikah dengan seorang istri yang hafidz, ane doain moga bisa terlaksana.
April kemarin sahabat ane ini datang ke rumah ane, dengan segala kebahagiaan yang dibawanya. Dan pemikiran yang membuat dirinya menjadi seorang yang menurut ane bijaksana. Moga kami bisa bersahabat di dunia dan diakhirat, ane berterimakasih bisa menjadi sahabatnya.
Selasa, 21 April 2009
Selasa, 31 Maret 2009
JEJEN
Satu lagi sahabat ane dari pesantren SUKAHURIP yaitu Jejen, Jejen adalah sosok sahabat yang memiliki ilmu agama yang banyak, terbukti saat ini Jejen menjadi seorang ustadz dikampungnya.
Kehidupan Jejen sebelumnya mirip dengan kehidupan ane yaitu Jejen berasal dari lingkungan sekolahnamun beliau memutuskan untuk pindah menjadi Ustadz dengan cara mendalami ilmu agama di pesantren, dan keinginannya tercapai, Dan beliau yang memotivasi saya bahwa seorang yang dari latar belakang sekolahpun bisa menjadi seorang ustadz asal kan menuntut ilmu dengan serius dan disiplin. Jejen saat ini hidup bahagia dengan istri dan anaknya.
Semoga Allah SWT selalu memberi Rahmat dan Hidayah-Nya pada Jejen sahabatku, dan semoga cita-cita Jejen terkabul.
Kehidupan Jejen sebelumnya mirip dengan kehidupan ane yaitu Jejen berasal dari lingkungan sekolahnamun beliau memutuskan untuk pindah menjadi Ustadz dengan cara mendalami ilmu agama di pesantren, dan keinginannya tercapai, Dan beliau yang memotivasi saya bahwa seorang yang dari latar belakang sekolahpun bisa menjadi seorang ustadz asal kan menuntut ilmu dengan serius dan disiplin. Jejen saat ini hidup bahagia dengan istri dan anaknya.
Semoga Allah SWT selalu memberi Rahmat dan Hidayah-Nya pada Jejen sahabatku, dan semoga cita-cita Jejen terkabul.
D3 ( Daud, Dudi, Deden )
Persahabatan yang sejati terlahir dari orang-orang yang yang saling take and give, saling menyayangi, saling membantu, saling mengerti satu dengan yang lainnya. Persahabatan D3 ini terbentuk atas dasar tersebut dan tentu saja karena Allah SWT.
Dudi dan Deden
Mereka adalah sahabat ane, mereka yang mengajari ane banyak hal, baik tentang ilmu maupun tentang kehidupan, ane bisa sangat terbuka pada mereka berdua, kerinduan sahabat kadang-kadang datang ketika ane ingin berbagi baik suka maupun duka.
Mereka asli dari Cicalengka, Bandung dan pertemuan dengan mereka di Pesantren yang sangat ane cintai, pesantren yang banyak mengajari ane banyak hal yaitu " SUKAHURIP ".
Mungkin dikarenakan sering bersama, melewati hal-hal bersama, baik suka maupun duka, hati ane menerima mereka menjadi sahabat ane.
Terus terang, tidak semua teman saya dipesantren itu menjadi sahabat ane, yang memiliki kedekatan hati saja yang bisa menjadi sahabat ane. Dan itu terjadi secara begitu saja, diluar keinginan saya. Seolah Allah telah menunjukkan kepada ane bahwa mereka adalah sahabat ane didunia dan akhirat.
Mudah-mudahan persahabatn ini bisa langgeng hingga di surga. Amin
Dudi dan Deden
Mereka adalah sahabat ane, mereka yang mengajari ane banyak hal, baik tentang ilmu maupun tentang kehidupan, ane bisa sangat terbuka pada mereka berdua, kerinduan sahabat kadang-kadang datang ketika ane ingin berbagi baik suka maupun duka.
Mereka asli dari Cicalengka, Bandung dan pertemuan dengan mereka di Pesantren yang sangat ane cintai, pesantren yang banyak mengajari ane banyak hal yaitu " SUKAHURIP ".
Mungkin dikarenakan sering bersama, melewati hal-hal bersama, baik suka maupun duka, hati ane menerima mereka menjadi sahabat ane.
Terus terang, tidak semua teman saya dipesantren itu menjadi sahabat ane, yang memiliki kedekatan hati saja yang bisa menjadi sahabat ane. Dan itu terjadi secara begitu saja, diluar keinginan saya. Seolah Allah telah menunjukkan kepada ane bahwa mereka adalah sahabat ane didunia dan akhirat.
Mudah-mudahan persahabatn ini bisa langgeng hingga di surga. Amin
Kamis, 19 Maret 2009
Rahmat
Kecil, lucu, Imut emang terdapat dalam diri "Cemet" panggilan lucunya hehehe.. tapi terus terang dia emang kecil, tapi usianya diatas ane, dan ilmu yang telah dipelajari oleh cemet sangat banyak, ilmu agamanya luas.
Sahabatku ini bertemu ketika ane pertama kali menginjakkan kaki di pesantren " Sukahurip ", saat itu entah kenapa seolah ane pernah bertemu dengan cemet, dan pernah bersahabat dengannya. Padahal ane sama sekali baru kenal dengan cemet.
Cemet selalu membantu ane dalam segala hal ketika ane pesantren disana, dari hal pelajaran sampai hal masak-memasak cemet jagonya. Ketika sahabatku ini ke gasol, ane mencoba datang kesana dan senang sekali bisa menemukan dia disana.
Rahmat, sebuah nama yang akan selalu kuingat, walaupun sudah 5 tahun terakhir ini ane belum bertemu dengannya lagi.
Sahabatku ini bertemu ketika ane pertama kali menginjakkan kaki di pesantren " Sukahurip ", saat itu entah kenapa seolah ane pernah bertemu dengan cemet, dan pernah bersahabat dengannya. Padahal ane sama sekali baru kenal dengan cemet.
Cemet selalu membantu ane dalam segala hal ketika ane pesantren disana, dari hal pelajaran sampai hal masak-memasak cemet jagonya. Ketika sahabatku ini ke gasol, ane mencoba datang kesana dan senang sekali bisa menemukan dia disana.
Rahmat, sebuah nama yang akan selalu kuingat, walaupun sudah 5 tahun terakhir ini ane belum bertemu dengannya lagi.
Arif Zarkasih
Sahabatku ini adalah teman semasa sekolah ane di SMK Ibnu A'qil, kami bersahabat karena kami memiliki cara pandang yang berbeda, dalam hal musik Arif senang sekali bahkan dia memiliki beberapa alat musik, sedang ane sama sekali ga menyukai alat musik.
Yang membuat ane bisa menjadi sahabat Arif, karen keterbukaan Arif pada ane dan begitupun sebaliknya. Ane bisa menceritakan hal yang sangat privasi sekali. Kami sangat terbuka, dan kami saling mendukung satu sama yang lain.
Pernah di SMK ane memiliki sahabat DAMAI ( Daud, Arif, Mad Soleh, Ajum, Ikhsan ).
Terima kasih sahabatku.
Yang membuat ane bisa menjadi sahabat Arif, karen keterbukaan Arif pada ane dan begitupun sebaliknya. Ane bisa menceritakan hal yang sangat privasi sekali. Kami sangat terbuka, dan kami saling mendukung satu sama yang lain.
Pernah di SMK ane memiliki sahabat DAMAI ( Daud, Arif, Mad Soleh, Ajum, Ikhsan ).
Terima kasih sahabatku.
Asep Aminuddin
Sahabat ane yang satu ini berasal dari kota Bandung, tepatnya di daerah Cikancung, Cicalengka Bandung Selatan. Kami bersua ketika kami pesantren di Cirebon.
Perkenalan dengan Asep termasuk lucu, hanya gara-gara ane sering memanggil di "Botax" dan emang itu nyata, ane hanya bercanda memanggil Asep Botax, dengan candaan itu kami bisa menjadi sahabat samapai saat ini dan sampai kapanpun, baik di dunia maupun di akhirat.
Bahkan keluarganya seperti keluargaku sendiri, ketika ane butuh seseorang untuk berbagi, ane akan mencari Asep n family supaya ane bisa mengatasi masalah ane.
Pernah suatu waktu, tepatnya tahun 2005, Mamah ane meninggal dunia, saat itu ane merasa ga punya pegangan lagi untuk bersandar kecuali pada Allah SWT, ane memerlukan orang yang bisa ane bagi kesedihan ane, supaya ane tidak berlarut-larut dalam kesedihan, maka ane pilih Asep dan keluarga.
Disana, diBandung sekitar dua bulan ane di therapy untuk peyembuhan kejiwaan, mungkin saat itu ane merasa Stress, namun tidak sampai gila. Asep dan keluarga menjebloskan ane ke sebuah Pesantren yang tradisional, dan membantu ane menyembuhkan pikiran ane yang sedang kalut. Pesantren itu bernama " Pesantren Sukahurip ".
Disana ane i gembleng tentang berbagai hal, dari fikih, akhlaq dll. Dengan Kiyai yang bersahaja yaitu KH. Abdul Fattah, ane di berikan pengajaran khusus, sehingga menjadikan ane manusia yang baru, dengan mindset yang baru, dengan akhlaq yang lebih baik, semuanya kurasakan sampai saat ini dan sampai nanti.
Ternyata dengan memasukkan ane ke pesantren itu Asep dan keluarga telah berhasil menyadarkan ane tentang arti sebuah kehidupan. Asep Aminuddin adalah sahabat terbaik ane.
Ane ucapkan terima kasih untuk Asep akrena mau menjadi sahabatku. Moga Allah membalas kebaikan Asep di dunia dan di akhirat.
Perkenalan dengan Asep termasuk lucu, hanya gara-gara ane sering memanggil di "Botax" dan emang itu nyata, ane hanya bercanda memanggil Asep Botax, dengan candaan itu kami bisa menjadi sahabat samapai saat ini dan sampai kapanpun, baik di dunia maupun di akhirat.
Bahkan keluarganya seperti keluargaku sendiri, ketika ane butuh seseorang untuk berbagi, ane akan mencari Asep n family supaya ane bisa mengatasi masalah ane.
Pernah suatu waktu, tepatnya tahun 2005, Mamah ane meninggal dunia, saat itu ane merasa ga punya pegangan lagi untuk bersandar kecuali pada Allah SWT, ane memerlukan orang yang bisa ane bagi kesedihan ane, supaya ane tidak berlarut-larut dalam kesedihan, maka ane pilih Asep dan keluarga.
Disana, diBandung sekitar dua bulan ane di therapy untuk peyembuhan kejiwaan, mungkin saat itu ane merasa Stress, namun tidak sampai gila. Asep dan keluarga menjebloskan ane ke sebuah Pesantren yang tradisional, dan membantu ane menyembuhkan pikiran ane yang sedang kalut. Pesantren itu bernama " Pesantren Sukahurip ".
Disana ane i gembleng tentang berbagai hal, dari fikih, akhlaq dll. Dengan Kiyai yang bersahaja yaitu KH. Abdul Fattah, ane di berikan pengajaran khusus, sehingga menjadikan ane manusia yang baru, dengan mindset yang baru, dengan akhlaq yang lebih baik, semuanya kurasakan sampai saat ini dan sampai nanti.
Ternyata dengan memasukkan ane ke pesantren itu Asep dan keluarga telah berhasil menyadarkan ane tentang arti sebuah kehidupan. Asep Aminuddin adalah sahabat terbaik ane.
Ane ucapkan terima kasih untuk Asep akrena mau menjadi sahabatku. Moga Allah membalas kebaikan Asep di dunia dan di akhirat.
Nashruddin Azzen
Sahabat ane yang satu ini adalah sahabat yang menurut ane dialah sahabat yang pertama kali ada dalam kehidupan ane, atau dialah sahabat yang menyadarkan ane bahwa persahabatan itu indah.
Jujur dari SD sampai SMA ane adalah manusia yang tertutup, dan tidak membuka diri, hingga membuat ane menjadi manusia yang minder dan "Kuper" alias kurang pergaulan, di buktikan dengan hanya sedikit orang yang mau menjadi teman ane.
Disaat pikiran minder ini ada dalam diri ane, semua orang yang ku kenali merasa ane tidak bisa menjadi teman mereka, dan ane akui bahwa hal ini membuat ane semakin da semakin membuat ane lebih minder.
Saat itu tahun 1999 akhir, ketika Gusdur menjadi Presiden RI yang memberlakukan libur bulan puasa adalah 30 hari selama bulan Ramadhan. Abi ane KH. Tb. Zainal Muttaqin memasukkan ane ke pesantren Riyadhloh yaitu pesantren Darut Tawabin, karena disana ada kakak ane yang sudah beberapa lama pesantren disana, kalo ane sih cuma pesantren kilat selama 40 hari.
Saat itu ane merasa bahagia sekali karena ane akan berada di luar rumah dan melihat keadaan di luar rumah itu seperti apa, maklum dengan sifat minder ane dulu, ane orang yang ga pernah keluar rumah kecuali ada keperluan.
Suasana di Pesantren ini sangat alami, dengan pepohonan yang tumbuh di tengah-tengah pesantren ini. Apalagi di kobong belakang, terdapat kolam ikan yang selain dipergunakan untuk kolam ikan, dipergunakan juga untuk berwudhu, mencuci pakaian dan mencuci piring, tentu saja disediakan tempatnya.
Waktu itu niat saya pesantren disini yaitu :
Bertaubat ( Yang paling utama menurut Mbah Khotim )
Mendapatkan kasih sayang Allah SWT, selamat dan bahagia dunia dan akhirat
Ada satu lagi permintaan ane waktu itu yaitu ingin membuka diri kepada siapapun, ga minder dan ingin merasakan persahabatan.
Allah telah mengabulkan doa ane, ketika ane baru 3 hari disini, ane berkenalan dengan Nasruddin Azzen itu juga karena ga sengaja kami berjalan bareng menuju Mbah Khotim dengan santri yang lain. Ditengah jalan Nas ( panggilan Nasruddin ) menanyakan nama dan alamat ane, saat itu ane merasa ada hal yang berbeda dengan diri Nas seolah ada magnet yang menyatukan kami.
Padahal saat itu banyak sekali santri yang kukenali tapi Nas seolah dia adalah orang yang sudah ane kenal lama sekali, hingga keakraban di antara kami seperti sahabat lama.
Nasruddin lahir dan tinggal di Kendal, Kaliwungu alamatnya ane simpan namu entah dimana naruhnya...hehehe. Usianya sama dengan ane yaitu tahun 1983. Kenangan bersama Nas ga akan ane lupa, kami sering pergi bersama, ziarah ke maqam, kami melakukan semua kegiatan yang bermanfaat bersama. Kami juga selalu berbagi baik suka maupun duka, dan saat itu ada perkataan Nas yang akan selalu ku ingat yaitu " Jadilah orang yang bisa diterima oleh semua orang, dan jadilah orang yang menyenangkan".
Sahabat ane yang satu ini termasuk sahabat yang memiliki sifat pemalu, dan sikapnya alami seperti orang kampung pada umumnya. Bersahabat dengan Nas membuat ane terbuka bahwa persahabatan harus dipupuk dengan kasih sayang yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam.
Namun ada pepatah " Ada pertemuan maka akan ada perpisahan, ane berpisah dengan Nas, ketika Nas selesai berpuasa selama 40 hari, dan Nas harus pulang. Ada peristiwa yang ga akan ane lupa, yaitu kami merayakan Lebaran di Pesantren bersama-sama ketika malam takbiran ( ane baru pertama kali ini Lebaran di luar rumah ) segala macam yang bisa di pukul, ada gelas, piring, kaleng, semua sanagat meriah walaupun dalam hati ini sedih tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Ane merasa, ada yang mengisi kekosongan hati yaitu Nasruddin Azzen.
Namun sampai saat ini 20 Maret 2009 setelah 9 tahun, ane ga pernah bertemu dengan Nas, ane ga tau dimana Nas, alamatnyapun ane ga tau, kontak dah ga tau. Tapi insyaAllah suatu saat nanti kami pasti bisa bertemu kembali, kalo tidak di dunia maka nanti disurga. aminnnn.
Jujur dari SD sampai SMA ane adalah manusia yang tertutup, dan tidak membuka diri, hingga membuat ane menjadi manusia yang minder dan "Kuper" alias kurang pergaulan, di buktikan dengan hanya sedikit orang yang mau menjadi teman ane.
Disaat pikiran minder ini ada dalam diri ane, semua orang yang ku kenali merasa ane tidak bisa menjadi teman mereka, dan ane akui bahwa hal ini membuat ane semakin da semakin membuat ane lebih minder.
Saat itu tahun 1999 akhir, ketika Gusdur menjadi Presiden RI yang memberlakukan libur bulan puasa adalah 30 hari selama bulan Ramadhan. Abi ane KH. Tb. Zainal Muttaqin memasukkan ane ke pesantren Riyadhloh yaitu pesantren Darut Tawabin, karena disana ada kakak ane yang sudah beberapa lama pesantren disana, kalo ane sih cuma pesantren kilat selama 40 hari.
Saat itu ane merasa bahagia sekali karena ane akan berada di luar rumah dan melihat keadaan di luar rumah itu seperti apa, maklum dengan sifat minder ane dulu, ane orang yang ga pernah keluar rumah kecuali ada keperluan.
Suasana di Pesantren ini sangat alami, dengan pepohonan yang tumbuh di tengah-tengah pesantren ini. Apalagi di kobong belakang, terdapat kolam ikan yang selain dipergunakan untuk kolam ikan, dipergunakan juga untuk berwudhu, mencuci pakaian dan mencuci piring, tentu saja disediakan tempatnya.
Waktu itu niat saya pesantren disini yaitu :
Bertaubat ( Yang paling utama menurut Mbah Khotim )
Mendapatkan kasih sayang Allah SWT, selamat dan bahagia dunia dan akhirat
Ada satu lagi permintaan ane waktu itu yaitu ingin membuka diri kepada siapapun, ga minder dan ingin merasakan persahabatan.
Allah telah mengabulkan doa ane, ketika ane baru 3 hari disini, ane berkenalan dengan Nasruddin Azzen itu juga karena ga sengaja kami berjalan bareng menuju Mbah Khotim dengan santri yang lain. Ditengah jalan Nas ( panggilan Nasruddin ) menanyakan nama dan alamat ane, saat itu ane merasa ada hal yang berbeda dengan diri Nas seolah ada magnet yang menyatukan kami.
Padahal saat itu banyak sekali santri yang kukenali tapi Nas seolah dia adalah orang yang sudah ane kenal lama sekali, hingga keakraban di antara kami seperti sahabat lama.
Nasruddin lahir dan tinggal di Kendal, Kaliwungu alamatnya ane simpan namu entah dimana naruhnya...hehehe. Usianya sama dengan ane yaitu tahun 1983. Kenangan bersama Nas ga akan ane lupa, kami sering pergi bersama, ziarah ke maqam, kami melakukan semua kegiatan yang bermanfaat bersama. Kami juga selalu berbagi baik suka maupun duka, dan saat itu ada perkataan Nas yang akan selalu ku ingat yaitu " Jadilah orang yang bisa diterima oleh semua orang, dan jadilah orang yang menyenangkan".
Sahabat ane yang satu ini termasuk sahabat yang memiliki sifat pemalu, dan sikapnya alami seperti orang kampung pada umumnya. Bersahabat dengan Nas membuat ane terbuka bahwa persahabatan harus dipupuk dengan kasih sayang yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam.
Namun ada pepatah " Ada pertemuan maka akan ada perpisahan, ane berpisah dengan Nas, ketika Nas selesai berpuasa selama 40 hari, dan Nas harus pulang. Ada peristiwa yang ga akan ane lupa, yaitu kami merayakan Lebaran di Pesantren bersama-sama ketika malam takbiran ( ane baru pertama kali ini Lebaran di luar rumah ) segala macam yang bisa di pukul, ada gelas, piring, kaleng, semua sanagat meriah walaupun dalam hati ini sedih tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Ane merasa, ada yang mengisi kekosongan hati yaitu Nasruddin Azzen.
Namun sampai saat ini 20 Maret 2009 setelah 9 tahun, ane ga pernah bertemu dengan Nas, ane ga tau dimana Nas, alamatnyapun ane ga tau, kontak dah ga tau. Tapi insyaAllah suatu saat nanti kami pasti bisa bertemu kembali, kalo tidak di dunia maka nanti disurga. aminnnn.
Sahabat
Sahabat adalah orang yang selalu menemani kita baik dalam suka maupun duka, sahabat adalah orang yang memberikan kita semangat ketika kita sedang berputus asa, dan sahabat adalah manusia yang di pilih oleh Allah SWT untuk kita agar kita selalu mendekatkan diri pada Allah.
Moga blog ini akan selalu mengingatkan ane tentang kenangan yang akan selalu di ingat hingga akhir hayat ane kelak.
Moga Allah selalu meridhoi kita semua, dan sesuai sabda Rasulullah SAW " Allah mencintai orang yang bersaudara karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah "
Langganan:
Postingan (Atom)